Ringkasan
Dropshipper dan reseller beroperasi dengan model bisnis yang berbeda -- dropshipper meneruskan pesanan ke supplier tanpa stok, reseller membeli dan menjual kembali. Meski berbeda secara operasional, keduanya diperlakukan sebagai usaha perdagangan untuk tujuan pajak dan dapat menggunakan PPh final 0,5%.
Perbedaan Dropshipper dan Reseller untuk Pajak
| Aspek | Dropshipper | Reseller |
|---|---|---|
| Omzet | Nilai jual ke konsumen | Nilai jual ke konsumen |
| Margin | Selisih harga jual dikurangi harga supplier | Selisih harga beli dan jual |
| Stok | Tidak ada | Ada |
| Faktur/invoice | Atas nama sendiri (jika model dropship) | Atas nama sendiri |
Untuk PPh final, omzet yang dihitung adalah nilai jual ke konsumen (bukan hanya margin/keuntungan).
Dasar Hukum
| Regulasi | Pasal | Ketentuan |
|---|---|---|
| PP 55/2022 | Pasal 7 | PPh final 0,5% UMKM omzet < Rp 4,8 M |
| UU HPP No. 7/2021 | Pasal 7 ayat (2a) | Bebas PPh omzet s.d. Rp 500 juta |
| UU PPh No. 36/2008 | Pasal 4 ayat (1) | Keuntungan usaha sebagai objek PPh |
| UU PPN No. 42/2009 | Pasal 4 | Kewajiban PPN jika omzet > Rp 4,8 M |
Cara Hitung PPh
Metode 1: PPh Final 0,5% (Direkomendasikan untuk UMKM)
Dikenakan atas omzet bruto (nilai jual ke konsumen), bukan atas keuntungan.
Contoh dropshipper:
- Harga jual ke konsumen: Rp 150.000/pcs
- Penjualan 500 pcs/bulan = omzet Rp 75.000.000/bulan
- Omzet tahunan = Rp 900.000.000
Bagian bebas PPh: Rp 500 juta Kena PPh: Rp 400.000.000 PPh final = 0,5% x Rp 400 juta = Rp 2.000.000/tahun
Contoh reseller:
- Beli barang Rp 40 juta/bulan, jual Rp 60 juta/bulan
- Omzet tahunan = 12 x Rp 60 juta = Rp 720.000.000
- Bagian kena PPh: Rp 720 juta - Rp 500 juta = Rp 220 juta
- PPh = 0,5% x Rp 220 juta = Rp 1.100.000/tahun
Metode 2: Norma Penghitungan Penghasilan Neto
KLU 47000-47999 (perdagangan eceran): norma bervariasi 20-30% tergantung jenis barang. Lebih menguntungkan jika biaya usaha besar.
Perbandingan Metode (omzet Rp 720 juta, KLU 47000, norma 25%)
| Metode | PPh Terutang |
|---|---|
| PPh final 0,5% | Rp 1.100.000 |
| NPPN (25% x Rp 720 juta = Rp 180 juta; PKP = Rp 126 juta) | Rp 3.600.000+ |
| Pembukuan (margin bersih 15% = Rp 108 juta; PKP = Rp 54 juta) | Rp 2.700.000 |
PPh final 0,5% paling menguntungkan untuk model bisnis dengan margin tipis dan omzet besar.
Kewajiban PPN
Dropshipper/reseller yang belum PKP: Tidak memungut PPN. Supplier mungkin mengenakan PPN jika sudah PKP, namun dropshipper/reseller non-PKP tidak dapat mengkreditkan pajak masukan tersebut.
Dropshipper/reseller yang sudah PKP (omzet > Rp 4,8 M): Wajib memungut PPN 11% atas penjualan dan dapat mengkreditkan PPN dari pembelian berFaktur.
Cara Lapor SPT
- Gunakan SPT 1770.
- Rekap omzet dari semua channel penjualan (marketplace, WA Business, website).
- Isi kolom PPh final PP 55/2022.
- Setor PPh bulanan setelah omzet kumulatif melampaui Rp 500 juta.
- Batas lapor: 31 Maret tahun berikutnya.
Contoh Kasus Nyata
Hana, dropshipper produk skincare, 2024:
| Channel | Omzet |
|---|---|
| WhatsApp/Instagram | Rp 240.000.000 |
| Shopee | Rp 360.000.000 |
| Tokopedia | Rp 180.000.000 |
| Total | Rp 780.000.000 |
- Bebas PPh: Rp 500 juta
- Kena PPh: Rp 280 juta
- PPh final = 0,5% x Rp 280 juta = Rp 1.400.000/tahun
Disetor: mulai bulan September (estimasi omzet kumulatif melampaui Rp 500 juta).