Status Perpajakan Pekerja Lepas
Pekerja harian lepas, buruh proyek, kuli panggul, dan casual worker semua diatur PMK 168/PMK.03/2023 Pasal 19 dan PER-2/PJ/2024. Skemanya berbeda dari karyawan tetap (TER bulanan): pakai threshold harian dan threshold bulanan untuk menghitung PPh 21.
Pemberi kerja (kontraktor, mandor, pemborong) wajib memotong PPh 21 saat upah harian melebihi batas. Banyak buruh akhirnya tidak kena PPh efektif karena total penghasilan setahun di bawah PTKP.
Dasar Hukum
| Regulasi | Pasal | Pengaturan |
|---|---|---|
| UU 36/2008 jo. UU 7/2021 | Pasal 17, 21 | Tarif PPh dan pemotongan |
| PMK 168/PMK.03/2023 | Pasal 19 | Upah harian: threshold Rp450rb |
| PMK 168/PMK.03/2023 | Pasal 20 | Threshold bulanan Rp4,5jt |
| PER-2/PJ/2024 | Pasal 4-6 | Tata cara pemotongan |
| PP 55/2022 | Pasal 5 | Penghasilan dari pekerjaan |
Breakdown PPh untuk Pekerja Lepas
1. Aturan Threshold Harian (PMK 168/2023 Pasal 19)
Untuk upah harian buruh lepas:
- Upah s.d. Rp450.000/hari: tidak dipotong PPh 21
- Upah > Rp450.000/hari: dipotong 5% atas selisih (upah - Rp450.000)
Contoh: upah harian Rp500.000 -> kena pajak atas Rp50.000 -> PPh 21 = 5% x Rp50.000 = Rp2.500/hari.
2. Aturan Threshold Bulanan
Saat upah kumulatif sebulan dari pemberi kerja yang sama lewat Rp4.500.000:
- Mulai hari saat threshold kelampauan, dasar pengenaan = upah harian dikurangi PTKP harian (PTKP setahun / 360)
- PPh 21 = DPP harian x tarif Pasal 17
Saat kumulatif sebulan lewat Rp10.200.000, perhitungan disetahunkan dengan tarif Pasal 17 penuh.
3. Upah Borongan dan Satuan
PMK 168/2023 juga atur upah satuan dan borongan:
- Upah satuan (per unit): hitung rata-rata sehari, lalu pakai aturan threshold harian
- Upah borongan (per pekerjaan selesai): pakai threshold harian dengan asumsi hari kerja
4. Tarif Naik 20% Tanpa NPWP
Pekerja lepas tanpa NPWP kena tarif PPh 21 lebih tinggi 20%. Jadi 5% jadi 6% atas selisih harian, atau 5%-35% naik proporsional di tarif progresif.
5. Rekonsiliasi di SPT 1770
Buruh harian wajib lapor SPT Tahunan 1770 jika total penghasilan setahun > PTKP. Bukti potong dari pemberi kerja jadi kredit pajak. Banyak yang akhirnya nihil atau lebih bayar.
Contoh Perhitungan
Kasus 1: Pak Karto Tukang Bangunan
Bekerja di proyek selama 2025, upah Rp350.000/hari, total 200 hari.
Per hari: Rp350.000 < Rp450.000 -> tidak dipotong PPh 21.
Total setahun = Rp70.000.000. Status K/2, PTKP Rp67,5jt. PKP = Rp2,5jt. PPh terutang setahun = 5% x Rp2,5jt = Rp125.000.
Saat SPT 1770, Pak Karto kurang bayar Rp125.000 karena selama tahun berjalan tidak ada pemotongan.
Kasus 2: Mas Joko Tukang Las Spesialis
Upah Rp600.000/hari, 250 hari setahun, dari berbagai pemborong. Status TK/0.
Per hari: dipotong 5% x (Rp600.000 - Rp450.000) = Rp7.500/hari. Setahun: dipotong 250 x Rp7.500 = Rp1.875.000.
Total bruto = Rp150jt. PTKP TK/0 = Rp54jt. PKP = Rp96jt. PPh terutang Pasal 17:
- 5% x Rp60jt = Rp3jt
- 15% x Rp36jt = Rp5,4jt
- Total = Rp8,4jt
Mas Joko masih kurang bayar Rp8,4jt - Rp1,875jt = Rp6,525jt yang harus disetor sendiri saat SPT.
Kasus 3: Bu Sumi Buruh Cuci Lepas
Upah Rp200.000/hari, 100 hari setahun dari rumah-rumah pengguna jasa.
Per hari: di bawah threshold, tidak dipotong.
Total bruto = Rp20jt < PTKP TK/0 (Rp54jt). PPh terutang nihil. Bu Sumi tetap wajib NPWP jika sudah daftar, tapi tidak bayar PPh.
Catatan: pengguna jasa rumah tangga bukan pemotong PPh 21, jadi tidak ada bukti potong. Bu Sumi cukup catat penghasilan untuk SPT.
Kasus 4: Buruh Borongan Sawah
Mas Pri buruh tani borongan tanam padi. Pekerjaan selesai 5 hari, dibayar Rp3 juta. Upah harian setara Rp600rb.
- Per hari kena: 5% x (Rp600.000 - Rp450.000) = Rp7.500/hari
- Total potong = 5 x Rp7.500 = Rp37.500
Tapi banyak pemberi kerja sektor pertanian non-pemotong, sehingga tidak ada potongan riil. Mas Pri lapor sendiri di SPT jika total > PTKP.
Formulir SPT
- Pekerja lepas: SPT 1770 (atau 1770 SS jika syaratnya terpenuhi)
- Bukti potong PPh 21 dari pemberi kerja jadi kredit pajak
- Lampiran I bagian penghasilan dari pekerjaan (bukan usaha)